Tampilkan postingan dengan label belajar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label belajar. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 27 April 2013

ETIKA BELAJAR & MENGAJAR



KATA PENGANTAR

                 الحمد لله رب العالمين و به نستعين على امور الدنيا و الدين الصلاة و السلام على اشرف الانبياء و المرسلين و على اله و اصحابه اجمعين .
            Hanya dengan rahmat Allahlah sehingga terbtlah satu makalah lagi dari kelompok kami yang berjudul “Etika Dalam Belajar dan Mengajar” .
            Makalah ini di buat sebagai salah satu usaha untuk memberikan wawasan pemikiran secara umum, khususnya kepada para mahasiswa dan umunya kepada para pembaca.
Kami menyadari bahwa makalah ini masih banyak kekurangannya dan masih jauh dari kata sempurna. Untuk itu, kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari semua pihak demi perbaikan dan kesempurnaan makalah ini.
Akhirnya hanya kepada Allah kami ucapkan syukur Alhamdulillah, karena kami dapat menyelesaikan tugas makalah ini.




Garut, __ April 2013 M






Penulis




DAFTAR ISI


 KATA PENGANTAR ...........................................................................          i
DAFTAR ISI ...........................................................................................          ii
BAB I PENDAHULUAN
A.     Latar Belakang Makalah ..............................................................          1
B.     Rumusan Masalah ........................................................................          1
BAB II PEMBAHASAN
A.     Syarat-syarat Belajar (Menuntut Ilmu) ..........................................          2
B.     Etika Belajar ................................................................................          3
C.     Etika Mengajar ............................................................................          6
D.     Manfa’at Belajar ..........................................................................          8
E.      Manfa’at Mengajar ......................................................................          10
KESIMPULAN ......................................................................................          12
DAFTAR PUSTAKA .............................................................................          15



BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang Makalah

Setelah kami amati, dizaman modern ini banyak dari kalangan para pelajar (penuntut ilmu), banyak mendapatkan ilmu, akan tetapi tidak mendapatkan manfa’at dan buahnya ilmu tersebut.
Hal ini disebabkan oleh kesalahan mereka dalam menempuh perjalanan dalam belajar (mencari ilmu), bahkan mereka mengabaikan syarat-syarat dalam menuntut ilmu, padahal setiap pelajar (penuntut ilmu) yang salah jalan ia akan tersesat dan tidak akan mencapai tujuannya baik sedikit maupun banyak.
Begitu pula banyak dari para pengajar (guru) tidak dapat merasakan bagaimana nikmatnya mengajar, karena mereka kurang profesional dalam mengajar, dan kurang mampu dalam memanfa’atkan waktu, sarana dan prasarana dll yang ada.

B.  Rumusan Masalah

1.         Syarat-syarat dalam  belajar (menuntut ilmu)
2.         Etika belajar
3.         Etika mengajar
4.         Manfa’at belajar
5.         Manfa’at  mengajar







BAB II
PEMBAHASAN


A.  Syarat-syarat Dalam Belajar (Menuntut Ilmu)

1.    Syarat-syarat Ilmu yang akan dipilih
Bagi setiap pelajar hendaknya memilih ilmu yang terbaik baginya dan ilmu yang dibutuhkannnya dalam urusan agama, pada masa sekarang dan ilmu yang dibutuhkannya pada masa mendatang.
Hendaknya ia memprioritaskan pada ilmu tauhid dan mengenal Allah dengan dalilnya, karena keimanan secara taklid (mengikuti pendapat orang lain tanpa mengetahui dalilnya), meskipun sah menurut kita tetapi berdosa, karena tidak berusaha mengkaji dalilnya.
Hendaknya ia memilih ilmu-ilmu lama dan hindarilah ilmu-ilmu baru. Para ulama berkata pelajarilah ilmu-ilmu lama dan hindarilah ilmu-ilmu yang baru.
Hindarilah perdebatan yang merajalela sesudah kepergian ulama’ besar karena perdebatan itu dapat menjauhkan para pelajar dalam memahami fiqh, menyia-nyiakan umur, menyebabkan timbunya kebencian dan permusuhan, hal itu merupakan tanda-tanda hari kiamat akan segera tiba serta lenyapnya ilmu dan fiqh. Demikianlah keterangan dalam hadits Nabi saw.

2.    Syarat dalam memilih Guru dan Musyawarah
Adapun dalam memilih guru, sebaiknya memilih orang yang lebih alim (pandai), wara’ (menjaga diri), dan lebih tua, sebagaimana saat Abu Hanifah memilih Imam Hammad bin Sulaiman sebagai gurunya setelah melalui pertimbangan dan pemikiran.
Dan hendaknya kepada setiap pelajar untuk selalu bermusyawarah dalam setiap urusan. Sebagaimana Allah swt. Telah  memerintahkan rasul untuk bermusyawarah dalam segala hal, dan tak ada satupun dari kita yang mampu menyamai kepintarannya dengan sang khaliq, sampai-sampai beliau (Rasulullah saw.) bermusyawarah dalam urusan perihal rumah tangga.
3.    Syarat dalam memilih Teman
Kita sebagai seorang pelajar harus pandai-pandai dalam perihal memilih teman bergaul, terutama dalam hal belajar, diantaranya; kita harus memilih teman yang Mujiddu (orang yang bersungguh-sungguh), wara’ (menjaga diri), orang yang jauh dari malas, pengangguran, banyak berbicara yang tidak bermanfa’at, perusak dan orang yang suka fitnah.
Dalam kitab ta’limul muta’allim, diterangkan:
Ingatlah! kamu tidak akan mendapatkan ilmu kecuali dengan enam syarat :
1. Cerdas, cepat faham
2. Tamak, tidak pernah puas dengan ilmu yang didapat.
3. Sabar dalam mencari ilmu dan mengabdi pada guru.
4. Punya uang,modal buat menuntut ilmu.
5.Ada gurunya yang bisa selalu memberi petunjuk dan mengajarkan ilmu      dan kebijaksanaan dengan benar.
6. Lama dalam menuntut ilmu/menuntut ilmu dalam waktu yang lama.
B. Etika Belajar
Dalam menjelaskan keutamaan belajar Al Ghazzali (2009: 27) mempertegas dengan ayat Al Qur’an  QS. At-Taubah : 122
$tBur šc%x. tbqãZÏB÷sßJø9$# (#rãÏÿYuŠÏ9 Zp©ù!$Ÿ2 4 Ÿwöqn=sù txÿtR `ÏB Èe@ä. 7ps%öÏù öNåk÷]ÏiB ×pxÿͬ!$sÛ (#qßg¤)xÿtGuŠÏj9 ’Îû Ç`ƒÏe$!$# (#râ‘É‹YãŠÏ9ur óOßgtBöqs% #sŒÎ) (#þqãèy_u‘ öNÍköŽs9Î) óOßg¯=yès9 šcrâ‘x‹øts† ÇÊËËÈ  
Artinya: “Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.”
Kemudian dalam QS An-Nahl : 43 :
!$tBur $uZù=y™ö‘r& ÆÏB y7Î=ö6s% žwÎ) Zw%y`Í‘ ûÓÇrqœR öNÍköŽs9Î) 4 (#þqè=t«ó¡sù Ÿ@÷dr& ̍ø.Ïe%!$# bÎ) óOçGYä. Ÿw tbqçHs>÷ès? ÇÍÌÈ  
Artinya: “Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali orang-orang lelaki yang Kami beri wahyu kepada mereka; Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan[1] jika kamu tidak mengetahui.”
 Juga diperjelas dengan Al-Hadits. Salah satu hadits yang menjelaskan keutamaan belajar adalah , “Barangsiapa berjalan untuk menuntut ilmu, maka Allah akan menganugrahinya jalan ke Syurga”, Rasululloh SAW bersabda “Sesungguhnya Malaikat membentangkan sayapnya kepada para pencari ilmu sebagai tanda ridha dengan usaha orang itu”.  Selanjutnya dinyatakan pula beberapa pendapat para sahabat dan ahli hikmah, diantaranya Imam Asy- Syafii pernah menyatakan, “Menuntut ilmu lebih utama daripada melakukan ibadah-ibadah sunat”.
Selanjutnya, al-Ghazali menguraikan hal-hal yang harus dipenuhi murid dalam proses belajar mengajar sebagaimana berikut:
(1) Belajar merupakan proses jiwa
(2) Belajar menuntut konsentrasi
(3) Belajar harus didasari sikap tawadhu’
(4) Belajar bertukar pendapat hendaklah telah mantap pengetahuan dasarnya
(5) Belajar harus mengetahui nilai dan tujuan ilmu pengetahuan yang dipelajari
(6) Belajar secara bertahap
(7) Belajar tujuannya adalah untuk berakhlakul karimah
 Sedangkan dalam etika belajar, Al-Ghazali (2009: 56-59) menjelaskan ada 10 hal yang harus dilakukan oleh seorang pelajar yaitu:
Pertama, membersihkan jiwa dari kejelekan akhlak, dan keburukan sifat karena ilmu itu adalah ibadahnya hati, shalat secara samar dan kedekatan batin dengan Allah.
Kedua, menyedikitkan hubungannya dengan sanak keluarga dari hal keduniawian dan menjauhi keluarga serta kampung halamannya. Hal ini menurut al-Ghazali agar seorang pelajar bisa konsentrasi dalam apa yang menjadi fokusnya.
ما فى المقام لذى عقل وذى ادب # من راحة فدع الاوطان واغترب
والاسد اولا فراق الغاب ماافترست # والسهم لولا فراق القوس لم يصب 
Ketiga, tidak sombong terhadap ilmu dan pula menjauhi tindakan tidak terpuji terhadap guru. Adapun etika seorang pelajar terhadap gurunya antara lain:
1.    Janganlah seorang pelajar berjalan di depan gurunya
2.    Janganlah memulai perkataan kecuali dengan izinnya
3.    Harus menjaga setiap perkataan
Sebagaimana disebutkan dalam Mahfudzot:
اذا تم العقل قل الكلام
Artinya: “Apabila akal seseorang telah sempurna, maka sedikitlah bicaranya.”
4.    Tidak banyak bertanya tentang sesuatu yang tidak di sukainya, akan tetapi seorang pelajar dapat menggunakan waktunya dengan baik
5.    Janganlah mengetuk pintu rumahnya, akan tetapi dia harus bersabar hingga guru tersebut keluar[2]
Keempat, menjaga diri dari mendengarkan perselisihan yang terjadi diantara manusia, karena hal itu dapat menyebabkan kebingungan, dan kebingungan pada tahap selanjutnya dapat menyebabkan pada kemalasan.
Kelima, tidak mengambil ilmu terpuji selain mendalaminya hingga selesai dan mengetahui hakikatnya. Karena keberuntungan melakukan sesuatu itu adalah menyelami (tabahhur) dalam sesuatu yang dikerjakannya.
Keenam, janganlah mengkhususkan pada satu macam ilmu kecuali untuk tertib belajar.
Ketujuh, jangan terburu-buru atau tergesa-gesa kecuali kita telah menguasai ilmu yang telah dipelajari sebelumnya. Karena sesungguhnya ilmu itu adalah sistematik, satu bagian saling terkait dengan bagian yang lainnya.
Kedelapan, harus mengetahui sebab-sebab lebih mulianya suatu disiplin ilmu dari pada yang lainnya. Seorang murid terlebih dahulu harus mengkomparasikan akan pilihan prioritas ilmu yang akan dipelajari.
Kesembilan, pelurusan tujuan pendidikan hanya karena Allah dan bukan karena harta dan lain sebagainya. Sebagaimana di terangkan oleh Az-Zarnuuji dalam kitabnya Ta’lim Muta’allim dari definisi niat itu adalah
فى جميع الاحواال الاصل
            ialah “Asal/akar dari segala sesuatu”
          Di terangkan pula dalam Al-Qur’an:
$tBur tb$Ÿ2 C§øÿuZÏ9 br& |NqßJs? žwÎ) ÈbøŒÎ*Î/ «!$# $Y7»tFÏ. Wx§_xs•B 3 ÆtBur ÷ŠÌãƒ z>#uqrO $u‹÷R‘‰9$# ¾ÏmÏ?÷sçR $pk÷]ÏB `tBur ÷ŠÌãƒ z>#uqrO ÍotÅzFy$# ¾ÏmÏ?÷sçR $pk÷]ÏB 4 “Ì“ôfuZy™ur tûï̍Å3»¤±9$# ÇÊÍÎÈ  
Artinya: “Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya. barang siapa menghendaki pahala dunia, niscaya Kami berikan kepadanya pahala dunia itu, dan barang siapa menghendaki pahala akhirat, Kami berikan (pula) kepadanya pahala akhirat itu. dan Kami akan memberi Balasan kepada orang-orang yang bersyukur.”[3]
Kesepuluh, harus mengetahui mana dari suatu disiplin ilmu yang lebih penting (yu’atsar al-rafi’ al-qarib ‘ala al-ba’id).

C.  Etika Mengajar
Al-Ghazali (2009: 27-30)  menjelaskan dasar hukum dan dalil bahwa mengajarkan ilmu itu wajib dalam QS. Ali Imran : 187:
øŒÎ)ur x‹s{r& ª!$# t,»sVŠÏB tûïÏ%©!$# (#qè?ré& |=»tGÅ3ø9$# ¼çm¨Zä^ÍhŠu;çFs9 Ĩ$¨Z=Ï9 Ÿwur ¼çmtRqßJçGõ3s? çnrä‹t7uZsù uä!#u‘ur öNÏdÍ‘qßgàß (#÷ruŽtIô©$#ur ¾ÏmÎ/ $YYoÿsS WxŠÎ=s% ( }§ø©Î7sù $tB šcrçŽtIô±o„ ÇÊÑÐÈ  
Artinya: “Dan ingatlah ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi Kitab (yaitu) :’hendaklah kamu menerangkan isi Kitab itu kepada manusia dan janganlah kamu menyembunyikannya”.
Ayat lain menjelaskan tentang larangan menyembunyikan ilmu dalam QS Al Baqarah : 283 :
bÎ)ur óOçFZä. 4’n?tã 9xÿy™ öNs9ur (#r߉Éfs? $Y6Ï?%x. Ö`»yd̍sù ×p|Êqç7ø)¨B ( ÷bÎ*sù z`ÏBr& Nä3àÒ÷èt/ $VÒ÷èt/ ÏjŠxsã‹ù=sù “Ï%©!$# z`ÏJè?øt$# ¼çmtFuZ»tBr& È,­Gu‹ø9ur ©!$# ¼çm­/u‘ 3 Ÿwur (#qßJçGõ3s? noy‰»yg¤±9$# 4 `tBur $ygôJçGò6tƒ ÿ¼çm¯RÎ*sù ÖNÏO#uä ¼çmç6ù=s% 3 ª!$#ur $yJÎ/ tbqè=yJ÷ès? ÒOŠÎ=tæ ÇËÑÌÈ
Artinya: “jika kamu dalam perjalanan (dan bermu'amalah tidak secara tunai) sedang kamu tidak memperoleh seorang penulis, Maka hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang[4] (oleh yang berpiutang). akan tetapi jika sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain, Maka hendaklah yang dipercayai itu menunaikan amanatnya (hutangnya) dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya; dan janganlah kamu (para saksi) Menyembunyikan persaksian. dan Barangsiapa yang menyembunyikannya, Maka Sesungguhnya ia adalah orang yang berdosa hatinya; dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
 Selanjutnya diperjelas lagi dalam beberapa hadist, diantaranya Nabi SAW bersabda “Sebaik-baik pemberian adalah kata-kata yang mengandung hikmah. Engkau mendengar lalu engkau menyimpannya baik-baik, kemudian engkau menyampaikan kepada saudaramu sesama Muslim, engkau mengajarinya. Amalan itu setara dengan ibadah setahun”. Perkataan sahabat dan ahli hikmah mengenai keutamaan ilmu diantaranya dari Ibnu Abbas Ra, “Orang yang mengajarkan kebaikan kepada orang banyak, niscaya semua makhluk  akan memintakan ampunan baginya, bahkan ikan di lautan”.
Berkaitan dengan tugas dan tanggung jawab guru profesional, Al-Ghazali menyebutkan beberapa hal sebagai berikut:
(1) Guru adalah orang tua kedua bagi murid
(2) Guru adalah pewaris ilmu nabi
(3) Guru adalah penunjuk jalan dan pembimbing keagamaan murid
(4) Guru adalah sentral figur bagi murid
(5) Guru adalah motivator bagi murid
(6) Guru adalah seseorang yang memahami tingkat perkembangan intelektual murid
(7) Guru sebagai teladan bagi murid
 Al Ghazzali (2009:59-62) menjelaskan tentang kewajiban dan etika yang harus diperhatikan oleh guru, yaitu :
Pertama, memperlakukan para murid dengan kasih sayang seperti anaknya sendiri.
Kedua, mengikuti teladan Rasul, tidak mengharap upah, balasan ataupun ucapan terima kasih (ikhlas).
الاخلاص روح العمل
Ketiga, jangan lupa menasehati murid tentang hal-hal yang baik.
(#öq|¹#uqs?ur........ Èd,ysø9$$Î/ (#öq|¹#uqs?ur ÎŽö9¢Á9$$Î/ ÇÌÈ  
 “ ............................dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.”[5]
Keempat, jangan lupa menasehati murid dan mencegahnya dari akhlak tercela, tidak secara terang-terangan tapi hendaknya gunakan sindiran. Jangan lupa untuk mengerjakannya terlebih dahulu karena pendidikan dengan sikap dan perbuatan jauh lebih efektif daripada perkataan.
Kelima, jangan menghina disiplin ilmu lain.
Keenam, terangkanlah dengan kadar kemampuan akal murid hingga batas kemampuan pemahaman mereka
Ketujuh, hendaknya seorang guru harus mengajar muridnya yang pemula dengan pelajaran yang simpel dan mudah dipahami, karena jika pelajarannya terlalu muluk-muluk maka hal tersebut akan membuat murid merasa minder dan tidak percaya diri.
Kedelapan, seorang guru harus menjadi orang yang mengamalkan ilmunya

D.  Manfaat Belajar
Diantara sekian banyak nikmat Allah yang telah kita rasakan, ada satu nikmat yang melandasi datangnya nikmat-nikmat yang lain, yaitu ilmu. Sebab dengan ilmu, seseorang akan dapat memahami berbagai hal dan karena ilmu juga, seseorang akan mendapatkan kedudukan yang lebih tinggi di sisi Allah, juga di kalangan manusia. Terutama jika disertai dengan keimanan dan ketakwaan kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Baik dia seorang budak atau orang merdeka; seorang bawahan atau atasan; seorang rakyat jelata ataupun para raja. Sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya,
يَـأَيُّهَاالَّذِيْنَ ءَامَنُوا إِذَاقِيْـلَ لَكُمْ تَفَـسَّحُوْافِيْ الْمَجَلِسِ فَافْـسَحُوا يَفْـسَحِ اللهُ لَكُمْۖ وَإِذَا قِيْـلَ انْشُزُوا فَانْشُزُوا يَرْفَعِ اللهُ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِيْنَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَتٍۗ وَاللهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبْيْرٌ ۝
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepada kalian, ‘Berlapang-lapanglah dalam majelis,’ maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untuk kalian. Dan apabila dikatakan, ‘Berdirilah kamu,’ maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui atas apa yang kalian kerjakan.” (Qs. Al-Mujadilah: 11)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah bersabda,
إِنَّ اللهَ يَرْفَعُ بِهَـذَا الْكِـتَابِ أَقْوَامًا وَيَضَعُ بِهِ آخَرِيْنَ
Artinya: “Sesungguhnya Allah mengangkat dengan Al-Qur’an beberapa kaum dan Allah pun merendahkan beberapa kaum dengannya.”[6] Dalil di atas dengan menegaskan bahwa orang yang berilmu dan mengamalkannya maka kedudukannya akan diangkat oleh Allah di dunia dan akan dinaikkan derajatnya di akhirat.Allah ‘Azza wa Jalla menolak persamaan antara orang-orang yang memiliki ilmu dengan orang-orang yang tidak memiliki ilmu. Sebagaimana Dia menolak persamaan antara para penghuni Surga dengan para penghuni Neraka. Allah berfirman,
قُـلْ هَـلْ يَسْتَوِى الَّذِيْنَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِيْنَ لاَ يَعْلَمُون ۝
Artinya: “Katakanlah: Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” (Qs. Az-Zumar: 9)
Ayat di atas berbentuk kalimat tanya, akan tetapi pada hakikatnya mengandung arti pengingkaran. Karena orang yang berilmu dan orang yang tidak berilmu tidak akan pernah setara kedudukannya. Yang dapat memahami maksud tersebut hanyalah orang yang cerdas, sehingga dia dapat mengetahui nilai ilmu, kedudukan dan keutamannya.[7]
Sementara itu, dalam firman-Nya yang lain, Allah Ta’ala menyatakan,
لاَيَسْتَوِى أَصْحَبُ النَّارِ وَأَصْحَبُ الْجَنَّةِۗ … ۝
Artinya: “Tidak sama (antara) para penghuni Neraka dengan para penghuni Surga…” (Qs. Al-Hasyr: 20)
Ini menunjukkan tentang puncak dari keutamaan dan kemuliaan orang yang berilmu. Bahkan, karena kemuliaan ilmu, Allah membolehkan kita untuk memakan hasil buruan anjing yang terlatih (untuk berburu) dan mengharamkan memakan buruan anjing yang tidak terlatih. Sebagaimana disebutkan dalam firman Allah Ta’ala,
يَسْـئَلُوْنَكَ مَاذَآ أُحِـلَّ لَهُمْۗ قُلْ أَحِـلَّ لَكُمُ الطَّيِّبَتُ وَمَاعَلَّمْتُمْ مِنَ الْجَوَارِحِ مُكَلِّبِيْنَ تُعَـلِّمُوْنَهُنَّ مِمَّا عَلَّمَكُمُ اللهُ فَـكُلُوْا مِمَّآ أَمْسَكْنَ عَلَيْكُمْ وَاذْكُرُوااسْمَ اللهِ عَلَيْهِۖ وَاتَّقُوااللهَۗ إِنَّ اللهَ سَرِيْعُ الْحِسَابِ ۝
Artinya: “Mereka menanyakan kepadamu: ‘Apakah yang dihalalkan bagi mereka?’ Katakanlah: ‘Dihalalkan bagimu yang baik-baik dan (buruan yang ditangkap) oleh binatang buas yang telah kamu ajar dengan melatih nya untuk berburu; kamu mengajarnya menurut apa yang telah diajarkan Allah kepadamu. Maka makanlah dari apa yang ditangkapnya untukmu, dan sebutlah nama Allah atas binatang buas itu (waktu melepaskannya). dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah amat cepat hisab-Nya.’”(Qs. Al-Ma’idah: 4)
Ayat di atas menunjukkan bahwa binatang menjadi mulia karena ilmu dan diberi kedudukan yang berbeda dengan binatang yang tidak berilmu. Seandainya bukan karena keutamaan ilmu, niscaya hasil buruan anjing yang terlatih dan tidak terlatih statusnya sama, yakni haram hukumnya untuk dikonsumsi. Akan tetapi, hewan yang ditangkap anjing pemburu statusnya halal, tidak sebagaimana hasil buruan anjing liar.

E.   Manfaat Mengajar
a. Memberikan ilmu serta menyalurkannya
     b. Membentuk  pribadi yang bagus dan disiplin
     c. Mengamalkan ilmu yang telah diperoleh
     d. Dengan mengajar maka kita terdidik pula
     e. Tauladan yang baik
     f. Melatih mental dan kepribadian
     g. Sarana untuk melatih diri sendiri
h. Mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemunkaran
       Dijelaskan dalam QS. Ali Imran (3) 110 :
öNçGZä. uŽöyz >p¨Bé& ôMy_̍÷zé& Ĩ$¨Y=Ï9 tbrâßDù's? Å$rã÷èyJø9$$Î/ šcöqyg÷Ys?ur Ç`tã ̍x6ZßJø9$# tbqãZÏB÷sè?ur «!$$Î/ 3 öqs9ur šÆtB#uä ã@÷dr& É=»tGÅ6ø9$# tb%s3s9 #ZŽöyz Nßg©9 4 ãNßg÷ZÏiB šcqãYÏB÷sßJø9$# ãNèdçŽsYò2r&ur tbqà)Å¡»xÿø9$# ÇÊÊÉÈ  
Artinya: "Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik".
            Maka dari itu kita harus menjadi guru professional. Guru profesional adalah orang yang memiliki  kemampuan dan keahlian khusus dalam bidang keguruan sehingga ia mampu melakukan tugsa dan fungsi nyasebagai guru dengan kemampuan maksimal.
Adapun syarat-syarat menjadi guru professional yaitu:
1.     Harus menguasai ilmu yang akan kita sampaikan dan bisa menjadi contoh yang baik untuk anak didik
2.    Memiliki inovasi dalam praktek pengajarannya
3.    Mencintai pekerjaan dan siswanya serta mengarahkan segala potensi untuk mencapai tujuan pendidikan
4.    Membekali diri dengan pengetahuan yang bermanfaat
5.    Menjadi contoh yang baik bagi yang lainnya
6.    Pemaaf dan toleransi
7.    Melaksanakan terlebih dahulu apa yang ia perintahkan kepada murid
8.    Menyadari bahwa tugas nya sebagai guru sangatlah berat
9.    Menyerupai tugas para Nabi sebagai petunjuk serta mengajarkan kepada umat manusia

Adapun kriteria guru yang profesional, diantaranya :
1.    Suka mencoba ide baru saat mengajar
2.    Memikirkan anak-anak yang lambat dalam belajar, dan anak-anak yang cepat tanggap dalam belajar
3.    Memikirkan strategi yang baik dalam mengajar, dan mengatur kelas. Dalam mengatur kelas, diusahakan kelas aman dan nyaman supaya anak didik fokus dalam belajar,
4.    Masuk ke kelas lebih dulu untuk mempersiapkan media pembelajaran
5.    Selalu menyemangati anak didik dalam proses belajar






KESIMPULAN
A.     Syarat-syarat dlam belajar (menuntut ilmu)
       اخى لن تنال العلم الا بستة, سانبيك عن تفصيلها ببيان: ذكاء وحرص واجتهاد ودرهم وصحبة الاستاذ وطول زمان.  
Saudaraku! Kamu tidak akan mendapatkan ilmu, kecuali dengan enam perkara, akan kuberitahukan perinciannya dengan jelas:
1. Cerdas, cepat faham
2. Tamak, tidak pernah puas dengan ilmu yang didapat.
3. Sabar dalam mencari ilmu dan mengabdi pada guru.
4. Punya uang,modal buat menuntut ilmu.
5.Ada gurunya yang bisa selalu memberi petunjuk dan mengajarkan ilmu      dan kebijaksanaan dengan benar.
6. Lama dalam menuntut ilmu/menuntut ilmu dalam waktu yang lama.

B.     Etika seorang pelajar ketika belajar ialah:
Pertama, membersihkan jiwa dari kejelekan akhlak, dan keburukan sifat karena ilmu itu adalah ibadahnya hati, shalat secara samar dan kedekatan batin dengan Allah.
Kedua, menyedikitkan hubungannya dengan sanak keluarga dari hal keduniawian dan menjauhi keluarga serta kampung halamannya. Hal ini menurut al-Ghazali agar seorang pelajar bisa konsentrasi dalam apa yang menjadi fokusnya.
Ketiga, tidak sombong terhadap ilmu dan pula menjauhi tindakan tidak terpuji terhadap guru. Adapun etika seorang pelajar terhadap gurunya antara lain:
Keempat, menjaga diri dari mendengarkan perselisihan yang terjadi diantara manusia, karena hal itu dapat menyebabkan kebingungan, dan kebingungan pada tahap selanjutnya dapat menyebabkan pada kemalasan.
Kelima, tidak mengambil ilmu terpuji selain mendalaminya hingga selesai dan mengetahui hakikatnya. Karena keberuntungan melakukan sesuatu itu adalah menyelami (tabahhur) dalam sesuatu yang dikerjakannya.
Keenam, janganlah mengkhususkan pada satu macam ilmu kecuali untuk tertib belajar.
Ketujuh, jangan terburu-buru atau tergesa-gesa kecuali kita telah menguasai ilmu yang telah dipelajari sebelumnya. Karena sesungguhnya ilmu itu adalah sistematik, satu bagian saling terkait dengan bagian yang lainnya.
Kedelapan, harus mengetahui sebab-sebab lebih mulianya suatu disiplin ilmu dari pada yang lainnya. Seorang murid terlebih dahulu harus mengkomparasikan akan pilihan prioritas ilmu yang akan dipelajari.
Kesembilan, pelurusan tujuan pendidikan hanya karena Allah dan bukan karena harta dan lain sebagainya.
Kesepuluh, harus mengetahui mana dari suatu disiplin ilmu yang lebih penting (yu’atsar al-rafi’ al-qarib ‘ala al-ba’id).
C.     Etika seorang guru ketika mengajar
Pertama, memperlakukan para murid dengan kasih sayang seperti anaknya sendiri.
Kedua, mengikuti teladan Rasul, tidak mengharap upah, balasan ataupun ucapan terima kasih (ikhlas).
Ketiga, jangan lupa menasehati murid tentang hal-hal yang baik.
Keempat, jangan lupa menasehati murid dan mencegahnya dari akhlak tercela, tidak secara terang-terangan tapi hendaknya gunakan sindiran. Jangan lupa untuk mengerjakannya terlebih dahulu karena pendidikan dengan sikap dan perbuatan jauh lebih efektif daripada perkataan.
Kelima, jangan menghina disiplin ilmu lain.
Keenam, terangkanlah dengan kadar kemampuan akal murid hingga batas kemampuan pemahaman mereka
Ketujuh, hendaknya seorang guru harus mengajar muridnya yang pemula dengan pelajaran yang simpel dan mudah dipahami, karena jika pelajarannya terlalu muluk-muluk maka hal tersebut akan membuat murid merasa minder dan tidak percaya diri.
Kedelapan, seorang guru harus menjadi orang yang mengamalkan ilmunya


D.     Manfa’at Belajar

1.      Dapat memahami/mengetahui banyak hal
2.      Ditinggikannya derajat
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah bersabda,
إِنَّ اللهَ يَرْفَعُ بِهَـذَا الْكِـتَابِ أَقْوَامًا وَيَضَعُ بِهِ آخَرِيْنَ
Artinya: “Sesungguhnya Allah mengangkat dengan Al-Qur’an beberapa kaum dan Allah pun merendahkan beberapa kaum dengannya.”[8] Dalil di atas dengan menegaskan bahwa orang yang berilmu dan mengamalkannya maka kedudukannya akan diangkat oleh Allah di dunia dan akan dinaikkan derajatnya di akhirat.
3.      Adanya perbedaan antara yang berilmu dan tidak berilmu dll.

E.      Manfa’at mengajar

a. Memberikan ilmu serta menyalurkannya
     b. Membentuk  pribadi yang bagus dan disiplin
     c. Mengamalkan ilmu yang telah diperoleh
     d. Dengan mengajar maka kita terdidik pula
     e. Tauladan yang baik
     f. Melatih mental dan kepribadian
     g. Sarana untuk melatih diri sendiri
h. Mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemunkaran






DAFTAR PUSTAKA
Az-Zarnuuji, TA’LIM MUTA’ALLIM, Daaru ihyaa’i-l-kutub Al-‘Arabiyah
http://www.qurancomplex.org/Magazine/default.asp?L=ind
MUSHAF Al-QUR’AN TERJEMAH, Jakarta, 2002


[1] Yakni: orang-orang yang mempunyai pengetahuan tentang Nabi dan kitab-kitab.
[2] Syaikh Az-Zarnuuji, TA’LIM MUTA’ALLIM, Daaru-l-ihyaa’il Kutub Al-‘Arabiyah, hal. 17
[3] (QS. Ali Imran {3} 145)
[4] Barang tanggungan (borg) itu diadakan bila satu sama lain tidak percaya mempercayai.
[5] (QS. Al-‘Ashr {103} 3)
[6] [Hadits shahih, diriwayatkan oleh Muslim (no. 817) dari ‘Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu’anhu]
[7] [Lihat Bahjatun Nazhirin (II/462) dan Syarah Riyadhush Shalihin Terjemah (IV/284)]


  Etika Belajar dan Mengajar